Seputar Bangku Kuliah

Kerucut Pemahaman (bag 3)

Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
Saya pernah dikagetkan lewat chatting oleh teman lama yang begitu excited dengan film journey to the center of the earth. Dari kalimatnya yang begitu bersemangat nampak sekali kalau dia mulai tertarik dengan isi perut bumi. Padahal dulunya dia itu mahasiswa instrumentasi tulen. Saya sampai dipaksa menyaksikan trailer film itu di youtube. Saya coba memintanya untuk bercerita sedikit tentang film itu. Saya bertanya, "berapa meter jagoannya turun ke dalam bumi?Trus dia ketemu apa aja?" Sebuah pertanyaan iseng untuk mengimbangi ketertarikannya. Ketika pertanyaan itu terlontar, tanpa diberi komando, seluruh konsep tentang bawah tanah dari ilmu geologi telah berdiri dibenak saya dan siap untuk dikonfrontir dengan isi cerita di film itu. Dia bercerita panjang lebar. Bersamaan aliran cerita itu pula satu demi satu konsep kebumian dari ilmu geologi saya tidurkan kembali. Saya memutuskan untuk menanggapi cerita itu dalam bahasa film atau seni, bukan dari sudut pandang geoscience, karena ngga akan nyambung. Soalnya film itu mengisahkan tentang adanya kehidupan diperut bumi. Well.., its totally different compare to the geologic point of view. Tapi yang menarik untuk dicermati disini adalah fakta ketertarikan dirinya terhadap kebumian setelah menyaksikan film itu. Tanpa ia sadari bahasa movie telah menggoreskan kesan mendalam dan melahirkan rasa keingintahuan yang sangat.

Sejak ikut pelatihan active learning di Rektorat UI dua tahun silam, saya sangat yakin dan percaya dengan kekuatan bahasa movie. Karenanya, bahasa movie telah menjadi metode andalan saya saat mengajar fisika dasar di fasilkom dan FKM. Hukum Newton, dinamika fluida, kalor, induksi listrik dan fisika modern saya kemas dalam bahasa movie. Saya perlihatkan movie itu dimenit-menit awal, kemudian ditengah-tengah perkuliahan dan satu lagi diakhir perkuliahan untuk memberikan penekanan dan kesimpulan. Dengan gaya mengajar seperti ini, pemahaman akan konsep-konsep fisika lebih dominan mengemuka dibandingkan rumus-rumus dan contoh-contoh hitungan. Saya memang sengaja menghindari itu, lantaran saya anggap mereka sudah kenyang dengan rumus dan ragam contoh hitungan saat mereka masih di SMA dan bimbingan belajar. Hasilnya, yang tadinya benci fisika jadi berbalik, mereka justru menanti-nanti pertemuan kuliah fisika berikutnya. Tanpa mereka sadari bahasa movie telah menggoreskan kesan mendalam dan melahirkan rasa keingintahuan yang sangat terhadap fisika. Bahkan lebih jauh lagi, saya berhasil merebut sebagian besar hati mereka. Kesan-kesan di dalam EDOM dan email-email pribadi dari mereka menjadi saksi.

Watching a movie/TV juga sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa anak kecil. Kalau anda menemukan ada anak balita sudah bisa menyanyikan lagu dangdut, anda ngga perlu menanyakan darimana ia belajar lagu dangdut itu. Karena sudah bisa ditebak bahwa ia belajar dari TV ketika ia ditinggal kerja oleh ayah-bundanya, sementara ia hanya tinggal di rumah bersama pembantu yang suka nonton acara lagu dangdut.

Edgar Dale, penulis buku Audio-Visual Methods in Teaching, sangat mengerti akan kekuatan watching a movie dalam memberi pengaruh pada otak manusia. Karenanya ia menempatkan watching a movie pada tangga ke empat dalam paadigma kerucut pemahaman yang digagasnya. Bahkan ia menjamin kalau watching a movie adalah cara belajar yang sgat baik. Ia bisa mengantarkan mahasiswa hingga sampai pada level pemahaman 50%. Fantastis bukan??

Bayangkan saja, jika ada dua mahasiswa yang sama-sama belajar fisika dasar dalam durasi waktu 90 menit. Mahasiswa pertama belajar dengan cara membaca buku haliday resnick dan mendengar kuliah dosen. Sementara mahasiswa kedua memilih menonton film-film singkat di youtube yang bertema fisika dasar sambil diterangkan oleh dosen. Siapa yang akan lebih tinggi pemahamannya? Saya yakin dan sudah membuktikan bahwa mahasiswa kedua akan lebih paham daripada mahasiswa pertama. Artinya saya sepakat dengan pendapat Dale. Yang pasti adalah rasa keingintahuan mahasiswa kedua akan lebih tinggi dibanding mahasiswa pertama. Mahasiswa kedua akan lebih banyak bertanya, bahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang "liar", persis seperti teman saya yang "norak" banget setelah menonton film journey to the center of the earth.

Lebih jauh lagi Dale menyebutkan alternatif lain yang mirip dengan watching a movie, antara lain: looking at an exhibition, watching a demonstration, dan seeing it done on location. Semua alternatif itu memerlukan kesiapan telinga dan mata pada saat yang bersamaan. Untuk bisa mencerna bahasa movie dan ketiga alternatif itu, dua panca indra kita yaitu mata dan telinga mesti dalam posisi stand-by. Mendengar sambil melihat adalah dua pekerjaan yang menuntut perhatian dan konsentrasi lebih dibandingkan hanya membaca saja atau hanya mendengar saja.

Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
Menurut Dale, batasan 50% pemahaman yang telah saya uraikan sampai dengan tulisan ketiga ini, termasuk pada kategori belajar dengan cara pasif. Pada dua tulisan terdahulu yang berjudul kerucut pemahaman, pembahasan kita telah sampai pada anak tangga ketiga. Tangga pertama adalah Reading. Pemahaman yang bisa dicapai lewat reading adalah 10%. Tangga kedua adalah Hearing Word (hadir kuliah), capaian pemahaman bisa meningkat menjadi 20%. Tangga ketiga adalah Looking at Pictures, capaian pemahaman bisa menjadi 30%. Dan sekarang watching a movie mematok batas pemahaman hingga 50%.

Sekarang silakan mulai mengevaluasi diri, gaya belajar kita selama ini ada diposisi anak tangga yang mana? Dan silakan hitung sendiri seberapa jauh capaian pemahaman anda dengan cara belajar seperti itu? Lanjutkan pertanyaan anda, jangan berhenti sampai disitu. Tahukah anda, apa arti dari angka 2,4 atau 2,75 atau 3,2 atau 3,6 yang tercantum di IP dan IPK anda dengan cara belajar seperti itu? Mereka itu sesungguhnya adalah angka semu yang tidak mencerminkan kepakaran anda sedikitpun. Angka-angka itu hanya mewakili pemahaman anda yang tidak lebih dari 50%. Anda tidak mengerti hingga level 90%.

Itulah sebabnya kebanyakan mahasiswa yang baru lulus S1, dihatinya selalu ada rasa ragu, cemas dan kurang percaya diri ketika mencoba melamar pekerjaan ke suatu perusahaan. Karena IPK-nya bukan cerminan knowledge yang terhimpun diotaknya. Dan hampir semua perusahaan sudah tahu hal ini. Makanya tahapan wawancara selalu ada diperusahaan manapun dimana salah satu targetnya adalah mengukur tingkat pemahaman calon pegawai.

--(Trieste, 20090721)--

Kembali ke halaman Daftar Judul Catatan