Seputar Bangku Kuliah

Turun dari langit

Rekan-rekan mahasiswa yang saya hormati,
Menyusul ceritanya si boss, saya juga mau berbagi pengalaman tentang lika-liku belajar bahasa inggris. Tapi saya berharap pengalaman ini ngga terulang lagi pada rekan-rekan semua.

Saya sudah belajar bahasa inggris sejak dari smp. Waktu itu saya ikut kursus, tapi ngga tekun. Sekedar ngisi waktu luang dan ikut-ikutan saja. Waktu itu saya menganggap ngga penting belajar bahasa inggris. Anggapan itu berlanjut sampai SMA. Matematika, Kimia dan Fisika rasanya lebih enak untuk dikunyah dari pada bahasa inggris. Akibatnya bahasa inggris saya ngga pernah maju-maju.

Saat duduk dibangku kuliah, saya agak kesulitan memahami textbook yang semuanya berbahasa inggris. Akibatnya saya selalu mengandalkan catatan dosen, atau menunggu saat-saat belajar kelompok bersama teman-teman yg lebih jago. Pas masuk tingkat 3 saya sadar bahwa bahasa inggris itu perlu untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Mulailah saya ikut kursus lagi. Apes-nya, hasil tes menempatkan saya di level basic, bareng-bareng sama anak-anak sma. Awalnya saya cuek aja. Tapi lama-lama terfikir juga untuk mencari tempat kursus yg punya program lebih cepat. Setelah cari kesana-kemari, akhirnya ketemu juga. Saya kursus bahasa inggris di bogor. Gurunya orang bule (native speaker). Kelasnya kecil, ngga lebih dari 5 orang. Mahal banget bayarnya. Tapi ya namanya upaya, saya jalanin aja. Saya cari uang buat biaya kursus. Perlu rekan-rekan ketahui, sejak masuk tingkat 2 saya sudah tidak minta uang lagi pada ortu.

Satu setengah tahun lebih saya ikut kursus di bogor sama orang bule. Tapi dasarnya otak ini ngga kompatibel sama bahasa inggris, ya akhirnya installnya juga susah banget. Kemajuan bahasa inggris saya minim sekali. Daripada bayar mahal-mahal ngga ada kemajuan, saya putuskan untuk cabut dari tempat kursus itu.

Bersamaan dengan itu, saya lulus S1. Pengennya sih langsung S2 di luar negeri. Tapi gara-gara bahasa inggrisnya ancur, ya terpaksa milih S2 di UI lagi. Alhamdulillah saya dapet beasiswa, jadi ngga perlu capek banting tulang nyari biaya kuliah. Nah, sambil kuliah saya ambil kursus bahasa inggris lagi. Tapi kali ini saya pilih kursus bahasa inggris yg spesifik, yaitu academic writing. Target saya adalah bisa nulis makalah dalam bahasa inggris. Biarin deh ngga bisa ngomong, yg penting bisa nulis, begitu pikir saya waktu itu. Saya suka sekali sama kursusnya. Disitulah saya belajar bagaimana cara menulis yang terstruktur rapi. Apa perbedaan antara kalimat utama dan kalimat penjelas dalam sebuah paragraf. Bagaimana cara menyusun kalimat secara kronologis. Bagaimana membunyikan kesimpulan dlsb. Pokoknya disana itu saya belajar bgmn caranya membuat tulisan yang punya nyawa, jiwa dan kekuatan. Konyolnya, bahasa inggrisnya malah ngga nempel-nempel. Buktinya, tetap aja saya kesulitan untuk membuat tulisan dalam bahasa inggris, walaupun hanya sebuah paragraf. Saya ngga ngerti kenapa.

Seiring dengan itu, pengumuman beasiswa datang bertubi-tubi. Pertama dari DAAD (Jerman). Saya udah incar dari sejak lama. Saya isi formulir aplikasi. Terus dikirim. Dan akhirnya dipanggil untuk interview. Saya masuk ke ruang interview. Eh, ternyata di dalam udah ada 2 orang jerman dan 2 orang indonesia. Masalahnya, yang aktif ngomong dan nanya-nanya adalah si jerman itu. Udah gitu dia ngomongnya selalu pakai bahasa inggris. Parahnya lagi yang ditanya adalah metodologi riset. Jadi bukan bahasa inggris yg sifatnya percakapan sehari-hari. Ya jadinya kayak jaka sembung naik ojek, yang ditanya apa, jawabannya apa. Cuma 5 menit saya di dalam ruang interview. Abis itu disuruh keluar. Gagal total. Pupus sudah impian kuliah di Jerman.

Ngga lama setelah itu ada info kalau Swedia juga punya tawaran beasiswa. Saya ambil formulir, terus saya isi lagi. Abis itu dapat panggilan langsung ke kantor kedubes. Dag dig dug, pasti bakal diajak ngomong pakai bahasa inggris lagi nih. Ya iyalah, masa ya iya dong. Bener aja, para kandidat dikumpulin di meja bunder. Dua orang swedia ikut duduk dan bertanya ke masing-masing kita. Bayangin, baru mau ngomong perkenalan diri dalam bahasa inggris aja, lidah saya udah kelu dan kaku. Akhirnya gagal maning, kata orang Purwokerto. Gagal maning itu artinya gagal lagi. Sejak itu jadi hopeless deh ama yg namanya kuliah keluar negeri.

Selang dua tahun saya ngga kepikiran utk kuliah ke luar negeri. Saya banting setir ke dunia IT, mendirikan lab cisco di departemen fisika. Sampai akhirnya ada kabar bahwa salah seorang professor di jepang bersedia menerima saya sebagai muridnya. Tanpa pikir panjang saya langsung ambil tawaran itu. Tapi belum apa-apa batu karang langsung menghadang. Ada syarat nilai TOEFL harus di atas 550. Padahal, saya ngga pernah ikut kursus TOEFL apalagi tes TOEFL. Akhirnya saya coba ambil tes di Salemba. Tau ngga score saya dapet berapa? Cuma 416. Parah banget khan. Boro-boro bisa nembus 550. Wah.. bakal gagal maning deh. Tapi alhamdulillah waktu itu saya dapat kabar burung bahwa beasiswa Jepang tidak memerlukan nilai TOEFL yg professional. Cukup dengan sertifikat dari tempat kursus biasa aja insya Allah bisa. Itulah celah sempit di antara batu karang yang masih mungkin dilewati. Saya datangi suatu tempat kursus. Saya utarakan bahwa saya perlu nilai TOEFL sebagai syarat mendapat beasiswa. Tapi saya ngga mau nembak. OK, tempat kursus itu bersedia membantu saya. Besoknya saya dikasih satu set naskah tes TOEFL. Saya coba kerjakan. Lho kok gampang-gampang banget. Ternyata itu soal-soal TOEFL tahun 80-an. Pantes aja gampang-gampang. Mau tau ngga berapa score saya? Score saya 673. Weesss manstabsss banget khan. Itu benar-benar angka yg meyakinkan utk dapetin beasiswa.

Pas pengumuman beasiswa keluar, nama saya ada disana. Alhamdulillah. Satu tahap terlewati. Berarti saya bakal ke Jepang, ikut program S3 international course. Tapi batin saya waktu itu juga menyimpulkan bahwa saya harus bisa ngomong dan nulis pakai bahasa inggris selama masuk program international course. Padahal untuk ngomong pakai bahasa inggris aja saya masih ngga PD.

Akhirnya tibalah waktu keberangkatan ke Jepang. Saya naik pesawat JAL (Japan Airline). Semua petunjuk didalam pesawat pakai bahasa inggris. Penumpangnya kebanyakan orang jepang yang tentunya hanya bisa diajak ngomong pakai bahasa inggris. Pramugarinya juga selalu pakai bahasa inggris kalau nawarin sesuatu. Kemampuan bahasa inggris saya waktu itu masih sedemikian parahnya. Pramugarinya ngomong apa juga saya ngga ngerti. Pokoknya saya cuma bisa bilang yes atau no. Ini benar-benar petualangan nekat keluar negeri.

Nah, setibanya di Jepang, ternyata saya dijemput ama profesor. Tau ngga saya ngomong apa sama beliau pas pertama kali ketemu? Saya ngga ngomong apa-apa. Cuma senyam-senyum aja. Padahal udah diajak makan siang dan dianter ke asrama. Amit-amit deh. Parah banget ya....

Besoknya, saya dikasih tahu dimana lab saya, tempat saya bekerja. Isinya mahasiswa asing semua, yang hanya bisa diajak ngomong pakai bahasa inggris. Dan saya juga diharuskan ngambil beberapa mata kuliah yang diajarkan dalam bahasa inggris. Tugas-tugas dan laporan juga mesti ditulis dalam bahasa inggris. Disitulah otak saya dipaksa berfikir dan bekerja dalam lingkungan yang berbahasa inggris. Alhamdulillah... pelan tapi pasti otak saya mulai bisa nerima dan mulai terbiasa dengan bahasa inggris. Tapi jangan dibayangkan kalau saat itu saya udah bisa nangkep omongan dosen. Masih jauh dari itu.

Lima bulan pertama di kampus saya jalani dalam lingkungan berbahasa inggris. Sampai suatu ketika profesor masuk ruangan dan ngasih instruksi kalau saya harus masukin abstract ke kongres ilmiah international yang sangat bergengsi. Gilaaa!!, saya kaget setengah mati. Muka langsung pucat. Berarti saya harus nulis abstract dalam bahasa inggris. Saya belum siap secepat itu. Kalau dibikin film, judul yg cocok untuk menggambarkan situasi saat itu adalah ’dipetjoet madjikan... ctaaarrr..!!!’. Ya betul. Itu ngga lebay. Instruksi itu betul-betul layak disebut sebagai sebuah pecutan yang menggelegar.

Saya duduk didepan layar komputer. Jari-jari tangan udah nangkring di atas keyboard. Tapi tak satupun tombol ditekan. Bukannya cuma bingung mau nulis apa, mau mulai dari huruf apa juga saya bingung. Alhamdulillah Tuhan ngga membiarkan saya kebingungan terlalu lama. Tiba-tiba muncul ide untuk melihat contoh-contoh abstract yang sudah pernah dibuat orang. Saya ambil sejumlah paper/makalah ilmiah. Saya baca abstractnya. Saya perhatikan kata-kata yg tertulis disana. Saya amati susunan kalimatnya. Akhirnya saya temukan pola-nya. Membaca pola, mungkin itu anugrah dari Tuhan yang saya miliki sejak kecil. Makanya saya senang sama dunia pemrograman komputer. Akhirnya setelah dua minggu berjibaku, abstract yang cuma 2 paragraf bisa kelar juga. Saya serahkan ke juragan untuk dikoreksi. Alhamdulillah hanya dikasih koreksi minor. Ya terang aja, orang cuma diganti datanya doang kok. Redaksinya sendiri khan cuma saya comot dari abstract2 yg sudah saya baca.

Tapi itu bukan akhir dari ’siksaan’, justru itulah awal ’penyiksaan’. Karena setelah abstract itu disetujui juragan, maka berarti saya harus bikin full paper-nya. Mati deh gue. Bikin abstract 2 paragraf aja perlu waktu 2 minggu, apalagi kalau disuruh bikin full paper, mau selesai kapan. Untung alhamdulillah saya dikasih otak yang mau dipaksa nyari cara mensiasati masalah ini ditengah kelemahan saya dalam bahasa inggris. Saya cari lagi beberapa makalah yang batasan masalahnya sama persis dengan tujuan penelitian saya. Saya perhatikan pola kalimat dari sejumlah makalah itu. Saya perhatikan bagaimana cara penulisnya mengungkapkan waktu, tempat, obyek, latar belakang, metodologi, analisis dan kesimpulan serta acknowledgement dan referensi. OK. Saya temukan polanya. Saya ramu sedikit agar cocok dengan data dan informasi yang saya miliki. Beres.. sebulan kemudian saya tunjukkan ke juragan. Kali ini koreksiannya agak banyak, tapi semuanya terfokus pada grammar, bukan pada content hasil penelitian. Hehehe.. lumayan.. Dalam 2 bulan saya sudah menghasilkan sebuah abstract dan makalah ilmiah berbahasa inggris untuk dikirim ke kongres internasional. Alhamdulillah. Itu suatu capaian yang tak pernah terlintas dibenak saya. Dan saya sadar sepenuhnya kalau itu sebenarnya cuma akal-akalan saya saja. Artinya saya pada dasarnya belum punya kemampuan menulis paper ilmiah (dalam bahasa inggris) dari A sampai Z. Dan kalau bukan karena ’dipetjoet joeragan’, mungkin selama itu juga saya ngga pernah mencoba nulis paper dalam bahasa inggris.

Rekan-rekan mahasiswa yg saya hormati, Tuntasnya penulisan full-paper itu bukan berarti petjoetan itu berhenti. Soalnya ternyata paper saya lolos seleksi. Itu berarti saya harus naik podium untuk presentasi dalam bahasa inggris di forum ilmiah internasional yang sangat bergengsi. AAACCHHH TIDAAAKKK.... ’siksaan’ ini belum akan berakhir rupanya. Harus pakai cara apa lagi nih untuk ngakalin masalah ini. Ngomong sehari-hari aja masih belepotan, apalagi harus membawakan makalah ilmiah di forum internasional. Dan saya sama sekali belom pernah presentasi di forum ilmiah manapun selama di Indonesia. Apalagi ini harus pakai bahasa inggris.

Informasi-informasi yang saya terima terkait dengan seminar itu justru membuat saya semakin menciut, tapi parahnya saya betul-betul ngga bisa menghindar. Pesertanya diperkirakan lebih dari 500 orang, terdiri dari para pakar geofisika berbagai negara termasuk orang yang namanya John A Scales pakar gelombang dari Colorado School of Mine, kampus yang melahirkan software Seismic Unix. Trus lagi para profesor dari berbagai universitas di jepang dipastikan hadir, karena seminar itu begitu berarti buat mereka. Mati dah gue.. kenapa mesti terjerumus ke tempat yg kayak gini ya?

Ya karena ngga ada cara untuk menghindar, akhirnya otak dipaksa untuk mikir bgmn cara mensiasati masalah yang segede gunung ini. Akhirnya tercetus ide untuk membuat semacam naskah skenario kira-kira apa saja yang mau saya ucapkan ketika slide demi slide dimunculkan. Saya mulai bikin slide. Slide pertama hanya menampilkan judul dan memperkenalkan diri. Saya buatkan naskah apa-apa saja yg harus saya ucapkan ketika slide pertama itu muncul. Saya cari kalimat-kalimat yg bagus dengan bantuan google. Demikian pula dengan slide kedua, ketiga, dst sampai slide terakhir. Semua slide ada naskahnya. Setelah itu saya hafal mati semua naskah itu. Saya hafalkan naskah itu setiap hari selama 2 pekan.

Pas seminggu sebelum penyelenggaraan seminar, saya menerima jadwal presentasi. Mata saya terbelalak, hati saya makin ciut, kaki lemes, muka pucat. Nama saya dijadwalkan tampil pada pukul 10:30 dihari pertama setelah acara pembukaan dan setelah si John A Scales membawakan presentasi ilmiahnya. Oh my God, sempurna sekali ’siksaan’ ini. Jam segitu di hari pertama pada sebuah seminar bergengsi adalah waktu dimana 100% partisipan seminar baru pada bangun tidur, masih segar-bugar, dan dalam konsentrasi penuh menyaksikan presentasi.

Malam hari, sehari sebelum presentasi, saya ngga bisa tidur. Betapa sulit membayangkan apa yang bakal terjadi esok pagi. Saya hanya bisa bertawakal pasrah sama yang di atas sana. Pokoknya saya sudah berupaya sekuat yang saya bisa.

Akhirnya seminar dibuka sama juragan saya. Beliau ketua pakar gefisika se-Jepang. Kemudian setelah itu, John A Scales tampil membawakan makalahnya. Saya sama sekali ngga ngerti dia itu sedang ngomong apa dan ngebahas apa. Bahasa inggrisnya cepat banget. Saya ngga bisa nangkep. Setelah dia turun, terdengar suara, “the next presenter is Mr. Supriyanto. He will talk about… bla..bla.. “ Saya menelan ludah sebelum berdiri dan berjalan menuju podium. Slide pertama saya sudah ditampilkan oleh operator. Saya raih microphone sambil melirik ke audience. Penuh banget ruangan ini. Sampai ada yang pada berdiri dibelakang. Semuanya pakai jas dan dasi. Juragan saya duduk di kursi baris kedua. Rupanya beliau adalah ketua panitia seminar ini. Bibir saya mulai mengucapkan kata-kata yang sudah saya hafal selama dua pekan. Alhamdulillah lancar walaupun agak grogi sedikit pada mulanya. Saya ngga berani menatap audience. Slide berikutnya tampil silih berganti. Alhamdulillah saya bisa menguasai keadaan, intonasi suara bisa diatur untuk memberikan efek penekanan pada bagian kesimpulan.

Akhirnya sessi presentasi selesai. Waktu itu saya baru tersadar kalau abis presentasi pasti akan ada sessi tanya-jawab secara langsung dimana para penanya akan angkat tangan lalu bertanya sesukanya dalam bahasa inggris. Tiba-tiba otak saya langsung hang. Situasi jadi tidak terkendali lagi. Saya ngga berkutik, ngga bisa mengatur siasat apa-apa lagi. Betul aja, begitu saya mengakhiri presentasi, ada 2 audience yang angkat tangan untuk bertanya. Dengan melongo, saya tatap penanya pertama, sambil saya tebak kira-kira dia itu sedang bilang apa. Parahnya, begitu ucapannya berhenti, saya ngga nangkep dia itu nanya apa. Otak saya hang. Akhirnya saya jawab sekenanya. Jaka sembung naik ojek. Kagak nyambung Jek. Nanya apa dijawab apa. Kemudian beralih ke penanya kedua. Saya ngga nangkep juga dia nanya apa. Rupanya dia paham dengan kondisi saya. Akhirnya dia bilang, “OK, let’s discusse it in detail after lunch”. Pfuihhh…. Berakhir sudah derita ini.

Begitu sessi pertama berakhir, saya hampiri juragan untuk minta maaf kalau presentasi saya barusan kurang memuaskan. Eh tanpa diduga beliau merespon dengan kalimat positif. “No. Your presentation is very nice. You look like a professor..”, katanya sambil menepuk bahu saya dan tertawa. Benar-benar kelewatan beliau ‘ngerjain’ saya.

Saya bersyukur bisa melewati ketegangan itu dengan selamat. Membawakan presentasi di depan pakar-pakar dunia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Sejak itu rasa percaya diri saya meningkat tajam mengikuti kurva eksponensial naik. Yang terfikir kemudian adalah bagaimana caranya supaya bisa menulis lebih baik lagi, dan bagaimana caranya supaya bisa tampil lebih baik lagi. Alhamdulillah, sampai saya lulus S3, saya mampu membuat 13 paper internasional dalam bahasa inggris. Saya tampil berbahasa inggris di Antalya (Turki), Cairo (Egypt), Melbourne (Aussie) dan Hiroshima (Jepang) serta Sendai (Jepang). Bahkan mestinya (kalau saya ngga mengalami kecelakaan) saya bisa tampil di Houston (Texas) di forum Society of Exploration Geophysics (SEG) ke 75. Selama S3, saya telah menempuh penerbangan sejauh 36000 mil dengan berbagai maskapai yang pramugarinya selalu ngomong pakai bahasa inggris. Kalau dulu, waktu pertama kali naik Japan Airline saya hanya bisa ngomong yes dan no, tapi pada penerbangan berikutnya saya udah bisa request sesuatu dalam bahasa inggris. Alhamdulillah.

Sekarang saya berada di ICS-UNIDO, lembaga riset PBB. Juragan saya orang italy, mandornya orang guatemala, joeroe toelis-nya ada yg dari UK, USA, Urugay dan Italy, sementara teman-teman sesama katjoeng ada yg dari elsavador, south africa, rusia, thailand, india, china, malaysia, tunisia, perancis dll. Bahasa komunikasi sehari-hari adalah bahasa inggris.

Ya.. begitulah ending ceritanya. Kalau dulu ngga dipetjoet ama madjikan..ctaaarrr!! mungkin saya ngga akan sampai pada capaian seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Banyak orang yang ngga menyangka kalau saya udah S3. Suatu ketika saya hendak mengajar mahasiswa S2 di Salemba. Saya berjalan ke gedung fisika pakai tas punggung. Saya lihat para mahasiswa S2 lagi pada duduk ngobrol2 di taman. Sampai saya melewati pintu gedung fisika tak ada satupun yang bergerak ke ruang kuliah. Mereka tetap asyik duduk di taman tanpa mempedulikan kehadiran saya. Saya cuek aja berjalan masuk gedung dan langsung menuju ruang sekretariat. Disana sudah ada seorang mahasiswa yg nanya ke staf sekretariat, ”Pak, dosennya mana, kok jam segini belom dateng?” Dengan santai dijawab ama staf sekretariat, ”Lha, itu dosennya ada di sebelah anda”. Mahasiswa itu kaget pas melihat saya yang lagi nyeka keringat pakai sapu tangan. Dia ngga nyangka kalau saya itu dosen yang mau ngajar dia. Segera dia menuju jendela lalu berteriak keluar, ”Woooiiii..., dosennya udah dateng”. Berbondong-bondong mereka masuk kelas. Udah gitu ada yang nyeletuk, ”Pak, tadi bapak masuknya lewat mana??”. Saya turun dari langit.

--(Trieste, 20090810)--

Kembali ke halaman Daftar Judul Catatan